Artikel & Berita
Informasi terkini seputar BMT HSI, keuangan syariah, dan tips bermanfaat lainnya.
Memiliki rumah sendiri adalah impian banyak keluarga Muslim. Setelah menikah dan memiliki anak, kebutuhan akan hunian yang tetap bukan lagi sekadar keinginan, melainkan kebutuhan mendasar. Namun, realitas di lapangan sering kali tidak ramah. Harga tanah dan bangunan terus meningkat, sementara opsi pembiayaan yang mudah diakses justru didominasi oleh kredit bank berbasis bunga.
Pernah merasa sudah keluar uang lumayan banyak untuk beli alat usaha, tapi hasilnya malah bikin kerja makin ribet? Produksi lambat, alat cepat panas, atau malah sering rusak? Kalau iya, besar kemungkinan masalahnya bukan di niat usahamu, tetapi di spesifikasi alat yang kamu pilih. Banyak pelaku usaha, terutama yang baru mulai, terlalu fokus pada harga dan lupa bahwa alat usaha itu adalah “jantung” operasional bisnis. Supaya kamu tidak mengulang kesalahan yang sama, mari kita bahas apa saja spesifikasi alat usaha yang wajib kamu perhatikan.
Di tengah gaya hidup yang serba digital dan kebutuhan keuangan yang serba instan, umat Muslim perlu lebih kritis agar kemudahan tidak mengorbankan keberkahan. Mari kita bahas paylater secara jernih, adil, dan sesuai prinsip syariah.
Mengelola bonus dengan strategi yang tepat dapat membantu Anda memperbaiki kondisi keuangan, mengurangi tekanan finansial, hingga mempercepat pencapaian pada tujuan hidup yang lebih besar. Tanpa perencanaan, bonus hanya akan menjadi konsumsi sesaat yang cepat terlupakan.
Namun, realitanya tidak selalu sederhana. Bagi banyak pekerja, UMR sering kali terasa “cukup di awal, berat di akhir”. Ini bukan semata karena nominal gaji yang terbatas, melainkan karena belum adanya strategi keuangan yang matang. Tanpa perencanaan, berapa pun gaji yang diterima akan cepat habis hanya untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek, tanpa menyisakan ruang untuk masa depan. Inilah alasan mengapa literasi dan strategi keuangan menjadi semakin penting di tahun 2026.
Tempat tinggal merupakan kebutuhan dasar manusia. Setiap keluarga pasti mendambakan rumah yang layak sebagai tempat berlindung, tumbuh, dan membangun kebahagiaan. Tak heran jika program Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bersubsidi yang diluncurkan pemerintah selalu ramai peminat. Dengan adanya subsidi, cicilan rumah terasa lebih ringan dan terjangkau.
Scroll TikTok, ada live tas branded promo isi dua. Modelnya catchy yang cocok banget buat hangout pas weekend. Harganya enggak sampai 150 ribu udah dapet dua! Kalau enggak buru-buru checkout, harga besok bisa aja lebih mahal. Untung ada paylater! Kira-kira itulah yang ada di pikiran banyak Gen Z yang jarang mikir jauh ke depan. Keinginan cepat punya barang baru untuk pamer ke teman, sering kali membuat mereka lupa menghitung kemampuan bayar. Fenomena ini bukan sekadar soal gengsi, melainkan tekanan sosial dan tuntutan tampil di media sosial, yang membuat Gen Z[a] mudah tergoda membeli barang tanpa pertimbangan jangka panjang.
Kebutuhan hidup kadang datang tanpa aba-aba. Genteng yang tiba-tiba bocor harus segera diganti, renovasi rumah demi menambah kamar untuk anak yang sudah besar, motor yang sudah enggak aman dipakai, sampai kebutuhan printilan yang meskipun kecil, tetapi sangat dibutuhkan, misalnya lemari pakaian. Dalam kondisi demikian, pembiayaan syariah pun sering menjadi pilihan karena dianggap lebih aman, halal, dan penuh keberkahan. Namun, sebaik dan sesyariah apa pun suatu produk pembiayaan, keputusan untuk mengajukannya tetap butuh pertimbangan matang, kan? Jangan sampai karena merasa “butuh cepat” membuat kita terburu-buru mengajukan menandatangani akad tanpa memahami isinya. Mengambil cicilan yang nantinya malah membuat napas tersengal setiap gajian. Akhirnya kita malah seperti hanya bertahan hidup dari bulan ke bulan. Sebelum klik “ajukan”, ada baiknya berpikir sebentar, cek tujuan, hitung kemampuan, dan pastikan lembaganya kredibel. Sebab langkah yang gegabah bisa berujung pada masalah finansial yang panjang.
Dengan strategi ini, keluarga tidak hanya bisa mengelola uang, tetapi juga menjaga harmoni dan keberkahan rumah tangga. Setiap rupiah yang keluar dari kantong bukan untuk menghabiskan uang, melainkan bagian dari ikhtiar membangun masa depan yang tenang, halal, dan berkah.
Banyak pemain judi online berasal dari kalangan berpendapatan rendah. PPATK mencatat, sekitar 71% dari mereka memiliki penghasilan di bawah Rp 5 juta per bulan. Bayangkan, uang yang seharusnya cukup untuk kebutuhan dapur justru mengalir ke kantong bandar. Sedikit demi sedikit, mereka terseret arus yang sulit dihentikan. Transaksi judi online pun luar biasa fantastis. Di awal 2024, jumlah transaksi mencurigakan tercatat lebih dari Rp600 triliun, dan sebagian besar mengalir ke luar negeri. Dana yang seharusnya membangun negeri, nyatanya hilang tanpa jejak, sementara janji menang instan terus menempel di layar ponsel.
MT HSI adalah Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS) yang berfokus pada layanan keuangan mikro sesuai prinsip syariah. Melalui akad-akad yang sesuai syariat, seperti murabahah, BMT HSI membantu anggota memenuhi kebutuhan finansial dengan cara yang halal, transparan, dan diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah. BMT HSI tidak hanya berfokus pada keuntungan materi, tapi juga pada keberkahan dan solidaritas umat. Dengan menjadi bagian dari BMT HSI, setiap transaksi bukan hanya sekadar angka, melainkan juga bagian dari ikhtiar menjaga diri dan keluarga dari jeratan riba.
Di tengah kesadaran umat Islam yang semakin tinggi terhadap larangan riba, muncul fenomena menarik: banyak orang yang begitu ketat menghindari bunga pinjaman, tidak mau menyentuh kredit konvensional, bahkan rela hidup sederhana agar terbebas dari transaksi ribawi. Kesadaran ini patut diapresiasi. Namun, ironisnya, ada fenomena lain yang muncul: seseorang yang begitu hati-hati menghindari riba, justru lengah dalam urusan utang.












