Melawan Istibtha’: Mengatur Nafsu di Era Kecepatan Palsu
Di tengah gempuran media sosial yang mengagungkan pencapaian instan, ada satu penyakit hati yang seringkali luput dari perhatian namun berdampak fatal: Istibtha’.
Secara umum, istibtha’ adalah perasaan tidak sabar atau merasa bahwa rezeki dan kesuksesan datang terlalu lambat. Penyakit hati ini mendorong seseorang untuk terburu-buru meraih dunia sebelum waktunya, yang pada akhirnya merusak orientasi hidup dan menjerumuskan seseorang ke dalam pelanggaran syariat seperti utang riba, suap, hingga menghalalkan segala cara demi status.
Jebakan "Sukses Sekarang Juga"
Narasi trending mengenai kekayaan instan di usia muda seringkali menjadi pemicu utama. Ketika seseorang terjangkit istibtha’, ia akan merasa tertinggal dan mulai kehilangan akal sehat dalam finansial. Logika pendek pun muncul: "Kalau jalan jujur terlalu lama, kenapa tidak lewat jalan pintas?"
Cicilan: Alat Bantu atau Beban Nafsu?
Dalam perencanaan keuangan, menggunakan skema cicilan (pembiayaan) sebenarnya diperbolehkan. Mencicil bisa menjadi strategi cerdas untuk menjaga kelancaran arus kas (cashflow), asalkan dilakukan dengan perhitungan yang matang dan akad yang benar.
Namun, kita wajib waspada. Apakah keinginan mencicil itu lahir dari kebutuhan yang terukur, atau justru manifestasi dari sifat istibtha’? Seringkali kita memaksakan diri mengambil cicilan hanya karena tidak sabar ingin memiliki barang mewah demi pengakuan sosial.
Penolakan Kredit: Perlindungan, Bukan Penghinaan
Salah satu momen yang sering memicu rasa istibtha’ adalah ketika pengajuan pembiayaan atau cicilan kita ditolak. Banyak orang merasa berkecil hati atau marah saat menghadapi penolakan ini. Padahal, jika kita melihatnya dengan jernih, penolakan tersebut adalah bentuk "perlindungan" nyata.
Lembaga keuangan menolak pengajuan berdasarkan data objektif yang menunjukkan bahwa kondisi keuangan kita sedang "kurang aman". Alih-alih merasa terhina, jadikan penolakan ini sebagai cermin untuk:
- Audit Diri: Menyadari bahwa rasio utang mungkin sudah terlalu tinggi.
- Mengerem Ambisi: Mengakui bahwa secara finansial, kita memang belum saatnya memiliki barang tersebut.
- Menghindari Gagal Bayar: Penolakan ini menghindarkan kita dari stres berkepanjangan akibat kejaran utang di masa depan.
Penutup: Beriman pada Takdir sebagai solusi
Kunci untuk menangkal istibtha’ adalah keyakinan bahwa rezeki tidak akan tertukar. Sukses bukan tentang mendahului takdir dengan cara menabrak aturan. Jika saat ini keuangan Anda belum memungkinkan untuk mencicil sesuatu, terimalah itu sebagai tanda bahwa Anda sedang dipersiapkan untuk sesuatu yang lebih baik di waktu yang tepat.
Tetaplah melangkah dengan tempo Anda sendiri dan perkuat tawakkal kepada Rabbul ‘Alamin. Karena pada akhirnya, keberkahan harta terletak pada ketenangan jiwa, bukan pada seberapa cepat kita bisa memamerkan kemewahan kepada dunia. [MNW]
