Kredit Macet Didominasi Gen Z. Kok, Bisa?
Scroll TikTok, ada live tas branded promo isi dua. Modelnya catchy yang cocok banget buat hangout pas weekend. Harganya enggak sampai 150 ribu udah dapet dua! Kalau enggak buru-buru checkout, harga besok bisa aja lebih mahal.
Untung ada paylater!
Kira-kira itulah yang ada di pikiran banyak Gen Z yang jarang mikir jauh ke depan. Keinginan cepat punya barang baru untuk pamer ke teman, sering kali membuat mereka lupa menghitung kemampuan bayar. Fenomena ini bukan sekadar soal gengsi, melainkan tekanan sosial dan tuntutan tampil di media sosial, yang membuat Gen Z[a] mudah tergoda membeli barang tanpa pertimbangan jangka panjang.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Maret 2025 menunjukkan sesuatu yang membuat kita tersentak. Gimana bisa? Total outstanding pinjaman online perorangan di Indonesia mencapai Rp80 triliun. Parahnya kredit macet lebih dari 90 hari mencapai Rp2,01 triliun. Lebih bikin geleng kepala lagi, 37,17% dari total kredit macet itu datang dari Gen Z dan milenial muda, alias mereka yang katanya paling tech-savvy dan financially aware.[1]
Fenomena ini enggak cuma sekadar angka di laporan, tapi realita yang terasa dalam kehidupan sehari-hari. Banyak Gen Z yang akhirnya harus pusing mikirin tagihan, nunda cicilan, bahkan merasa terbebani secara emosional. Padahal mereka masih muda, loh! Belum sampai mikir pendidikan anak!
Kenapa Gen Z Rentan Terjerat Utang?
Tekanan Sosial dan Konsumerisme Digital
Media sosial membuat para generasi muda merasa harus ikutan tren circle-nya. Feed Instagram teman ngaji yang lagi liburan, story WhatsApp rekan senam yang baru beli gadget terbaru, atau rekan kerja yang lagi unboxing barang kece. Somehow, yang demikian bikin mereka yang lihat itu semua, pengin juga ngerasain gimana punya gadget keren. At least, itu yang banyak dirasain Gen Z. Keinginan untuk terlihat up to date tanpa tanpa mikir panjang yang akhirnya berakhir galbay (gagal bayar—red).
Terjebak FOMO akan Flash Sale
Diskon terbatas, promo paylater, dan barang edisi terbatas, sering kali bikin Gen Z tergoda membeli secara impulsif. Rasa takut ketinggalan tren atau kesempatan dapat diskon khusus membuat mereka buru-buru klik “checkout” dengan menggampangkan kemampuan.
Kebiasaan ini mungkin terlihat sepele. Namun, jika terus diulang bisa menumpuk utang berbunga atau melibatkan akad yang mengandung riba. Dalam perspektif syariah, praktik riba bukan hanya soal seberapa besar angkanya, tetapi seberapa berkah untuk setiap rupiah yang berputar. Dampaknya sangat nyata: hilangnya keberkahan, terbebaninya pikiran, dan tekanan finansial sehari-hari menjadi semakin terasa.
Fenomena Lipstick Effect
Saat ekonomi sedang tidak stabil, orang tetap membeli barang kecil yang bikin mereka merasa happy. Misalnya, kipas portable dengan harga murah. Blender mini yang harganya di bawah pasaran, atau aksesoris printilan yang bisa dibeli dalam sekejap mata. Katanya semacam hadiah kecil sebagai selfreward. Sayangnya, pembelian ini sering ditutup pakai paylater atau pinjol, yang ujung-ujungnya bisa jadi kredit macet. Belum lagi, barangnya belum tentu berkualitas baik. Ada harga, ada rupa.
Kemudahan Akses Paylater dan Pinjol
Proses pengajuan yang cepat, limit instan, dan aplikasi yang super user-friendly bikin banyak orang lupa mengecek kemampuan nyicil. Pinjaman kecil yang tampak sepele bisa berubah jadi beban besar jika tidak dihitung matang sejak awal. Dari perspektif syariah, menggunakan fasilitas ini tanpa perhitungan yang cermat juga berpotensi melibatkan riba, yang bisa mengurangi keberkahan dari setiap rupiah yang keluar.
Catatan untuk Gen Z
Di tengah maraknya promo, flash sale, dan kemudahan akses pinjaman, banyak Gen Z merasa gampang tergoda untuk beli barang atau ikut layanan keuangan digital. Dengan ungkapan, “Dikit aja, kok!” tanpa disadari, beberapa dari fasilitas ini mengandung riba, yang bisa menggerus keberkahan dari setiap rupiah yang keluar. Padahal, riba itu bukan tentang sedikit atau banyaknya nominal, tetapi tentang seberapa besar dosa riba yang sedang dilakukan.
Berikut beberapa langkah praktis yang bisa membantu Gen Z mengelola keuangan dengan cerdas dan tetap anti-riba.
Pahami Akad dan Hindari Riba
Tidak semua pinjaman atau pembiayaan sama. Ada yang halal, ada yang riba. Riba bisa muncul dari bunga menumpuk atau ketidakjelasan akad. Layanan syariah menggunakan akad jelas, adil, tanpa bunga dan denda. Memahami akad sejak awal menjaga dompet tetap aman dan hati tenang.[b]
Refleksi Sebelum Mengambil Pembiayaan
Setiap kali tergoda beli atau pakai layanan kredit, berhenti sejenak dan tanyakan: “Apakah ini benar-benar kebutuhan, atau sekadar ingin terlihat up to date di media sosial?” Menghitung kemampuan bayar, memikirkan prioritas, dan melihat konsekuensi jangka panjang bisa mencegah kita dari kebiasaan utang.
Literaly, keputusan sadar hari ini bisa bikin masa depan finansial lebih berkah dan menenangkan.
Bangun Mindset Finansial Positif
Kesadaran terhadap riba harus dibarengi dengan kebiasaan finansial yang baik. Catat pengeluaran, pisahkan kebutuhan dan keinginan, dan biasakan menabung. Dengan mindset ini, godaan FOMO atau flash sale bisa dihadapi tanpa mengorbankan keberkahan dan stabilitas keuangan.
Kebiasaan sehari-hari yang konsisten bisa mencegah kredit macet sekaligus membangun masa depan yang lebih stabil dan tenang. Sederhana, tetapi powerfull!
Meskipun teknologi memudahkan akses keuangan, sikap bijak adalah “koentji”. Membuat keputusan finansial cerdas tidak selalu soal jumlah besar. Menunda pembelian impulsif, memilih pembiayaan sesuai kemampuan, atau menggunakan layanan syariah dengan tepat, bisa memiliki efek yang signifikan.
Gen Z punya potensi besar terhadap stabilitas finansial kalau dilengkapi pengetahuan dan sikap yang tepat. Dengan edukasi yang cukup[c], memilih layanan keuangan yang bertanggung jawab, dan membangun mindset finansial positif, para Gen Z bisa menghindari jerat utang. Somehow, langkah kecil yang kita ambil hari ini bisa bikin hati tenang dan masa depan finansial lebih cerah. Yuk, lebih bijak lagi menjalani kehidupan di era digital![am]
