Strategi Keuangan Keluarga di Tengah Krisis
Strategi Keuangan Keluarga di Tengah Krisis
Pagi itu, token listrik berbunyi meski masih tengah bulan. Seorang ibu tetap menyiapkan sarapan untuk keluarga, tetapi di kepalanya tak henti menghitung harga sembako yang terus naik setiap bulan. Inflasi semakin terasa, dan lonjakan harga emas membuat rencana tabungan terasa lebih menantang. Di sisi lain, biaya pendidikan anak dan cicilan bulanan tetap harus dibayar tepat waktu. Hal itu tentu saja menambah beban pikiran sang ibu. Inginnya mengeluh pada suami tentang kebutuhan yang harus dipenuhi. Namun, ia khawatir hal itu malah menambah beban pikiran sang kepala keluarga yang sudah lelah bekerja dari pagi hingga malam.
Inilah realita yang banyak dirasakan oleh keluarga Indonesia saat ini. Inflasi tahunan pada September 2025 tercatat 2,65%, sedikit naik dibanding bulan sebelumnya mendekati batas atas sasaran Bank Indonesia di 2,5±1%. Kenaikan harga kebutuhan pokok ini membuat banyak ibu rumah tangga yang turut membantu mencari penghasilan tambahan agar uang bulanan yang diberikan suami bisa tetap memenuhi kebutuhan keluarga.
Sementara itu, harga emas Antam pun ikut menunjukkan lonjakan signifikan dibandingkan tahun lalu, yakni mencapai Rp2.622.000 per gram pada 17 Oktober 2025. Bagi sebagian keluarga, emas bukan sekadar investasi, melainkan juga cadangan dana darurat. Lonjakan harga ini membuat mereka berpikir ulang sebelum membeli atau menabung emas, karena kebutuhan pokok tetap prioritas.
Di sisi lain, rasio utang rumah tangga terhadap PDB Indonesia sedikit menurun menjadi 16% pada kuartal pertama 2025 dari 16,20% pada kuartal sebelumnya. Namun, bagi banyak keluarga, beban utang tetap terasa berat. Cicilan rumah, kendaraan, atau pinjaman konsumtif membayangi setiap bulan, membuat orang tua gelisah dan terus mencari cara agar uang cukup menutup kebutuhan sehari-hari tanpa menambah utang.
Dalam kondisi seperti ini, setiap keputusan keuangan menjadi krusial. Seorang ibu harus menimbang membeli kebutuhan dapur mingguan atau menunda beberapa hal agar tetap sesuai anggaran. Sang Ayah mungkin ingin berinvestasi jangka panjang, tetapi harus menghitung risiko inflasi dan lonjakan harga emas. Salah langkah bisa berdampak langsung pada ketenangan keluarga.
Kondisi ekonomi yang tidak pasti ini menunjukkan pentingnya strategi keuangan keluarga yang matang. Tidak cukup hanya menabung atau mengandalkan penghasilan rutin. Perlu perencanaan yang mempertimbangkan arus kas, cadangan darurat, dan investasi yang aman serta halal. Strategi ini bukan sekadar menjaga kesejahteraan finansial, melainkan juga memastikan keluarga tetap tenang dan berkah.
Strategi Keuangan Keluarga yang Halal dan Berkah
Di tengah harga kebutuhan pokok yang terus naik dan ketidakpastian ekonomi, mengelola keuangan keluarga terasa seperti berjalan di atas tali. Namun, dengan strategi keuangan yang tepat dan sesuai prinsip syariah, keluarga bisa tetap tenang, cerdas, dan diberkahi.
- Menyusun Anggaran Keluarga
Bayangkan pagi itu, seorang ibu duduk di meja makan sambil menatap tumpukan struk belanja dan catatan pengeluaran bulan lalu. Dengan menulis semua pendapatan dan pengeluaran keluarga, ia bisa melihat pos-pos mana yang bisa dihemat dan mana yang harus tetap diprioritaskan. Anggaran yang jelas membantu keluarga mengambil keputusan finansial dengan lebih bijak, menghindari pengeluaran impulsif, dan menjaga keseimbangan antara kebutuhan dan keinginan.
- Tidak Berpikir untuk Berutang dengan Bunga
Ketika kebutuhan mendesak muncul, godaan untuk mengambil pinjaman berbunga sering kali terasa sulit diabaikan. Namun, utang konvensional bisa menjadi beban yang menumpuk. Keluarga yang cerdas memilih alternatif pembiayaan syariah, seperti pembiayaan murabahah di BMT HSI. Dengan demikian, kebutuhan tetap terpenuhi tanpa harus membayar bunga yang memberatkan, sehingga ketenangan hati dan keberkahan hidup tetap terjaga.
- Memanfaatkan Investasi Halal
Selain menabung, investasi menjadi cara strategis untuk menambah aset keluarga. Namun, penting memilih investasi yang sesuai syariah, seperti emas, deposito syariah, atau produk investasi halal lainnya. Dengan investasi halal, keluarga tidak hanya menumbuhkan aset, tetapi juga memastikan setiap rupiah yang ditanamkan membawa berkah dan aman dari riba atau praktik haram.
- Menabung untuk Dana Darurat
Hidup itu penuh ketidakpastian. Ada saja pengeluaran tak terduga. Mesin cuci tiba-tiba rusak, IPL yang naik lebih cepat dari perkiraan, bahkan terkadang ada permintaan mendesak dari kerabat yang butuh bantuan. Di sinilah dana darurat berperan. Dengan menyiapkan tabungan untuk situasi tak terduga, keluarga bisa menghadapi kejadian mendadak tanpa harus menambah utang. Idealnya, setiap keluarga memiliki cadangan dana darurat setidaknya sebanyak 3-6 bulan penghasilan.
Dengan strategi ini, keluarga tidak hanya bisa mengelola uang, tetapi juga menjaga harmoni dan keberkahan rumah tangga. Setiap rupiah yang keluar dari kantong bukan untuk menghabiskan uang, melainkan bagian dari ikhtiar membangun masa depan yang tenang, halal, dan berkah.
Mau strategi keuangan keluarga yang lebih lengkap dan sesuai syariah? BMT HSI siap menjadi solusi finansial syariah yang aman dan berkah untuk keluarga. [am]
